Museum Bali Denpasar

Museum Bali

Museum Bali adalah salah satu unit pelaksana teknis dinas kebudayaan Provinsi Bali. Yang memiliki tugas yaitu meneliti, mengumpulkan, merawat dan memamerkan benda – benda budaya untuk tujuan pendidikan, penelitian dan rekreasi atau pariwisata.

 

Terletak di pusat kota Denpasar, tepatnya di Jl. Mayor Wisnu di bagian sebelah timur Lapangan Puputan Badung serta di sebelah selatan Pura Jagatnatha membujur utara selatan sepanjang 140 meter dengan pintu masuk menghadap ke barat atau ke Jl. Mayor Wisnu yang di tutup untuk kendaraan, kecuali pengunjung Museum Bali.

 

 

Menurut koleksi yang di punyainya, Museum Bali merupakan salah satu museum umum provinsi memiliki dan memamerkan benda – benda budaya dari jaman prasejarah sampai kini yang mencerminkan seluruh unsur kebudayaan Bali. Antara lain : koleksi arkeologika, koleksi historika, koleksi seni rupa, koleksi etnografika, koleksi biologika, koleksi numismatika, koleksi filologika, koleksi keramologika, dan koleksi teknologika.

 

Semenjak berdiri sampai saat ini, Museum Bali ini selalu saja di kunjungi oleh wisatawan dari dalam ataupun luar negeri para pelajar, mahasiswa, seniman serta masyarakat biasa yang akan mengadakan sebuah penelitian mencari inspirasi dan rekreasi.

 

Sejarah Museum Bali

Di awali oleh keprihatinan oleh seorang asisten residance Belanda untuk Bali Selatan, yaitu W.F.J. Kroon pada tahun 1910. Dia merasa prihatin karena barang – barang budaya Bali di ambil oleh Belanda di bawa ke negaranya. Karena Bali di jajah oleh Belanda dengan di menangkannya pada perang puputan.

 

Kemudian W.F.J Kroon mengutus seorang arsitek berkebangsaan Jerman, bernama Curt Grundler yang bekerja sama dengan Undagi Bali (ahli bangunan tradisional Bali) bernama I Gusti Ketut Rai dan I Gusti Ketut Gede Kandel untuk membuat disain pembangunan gedung Museum Bali.

 

Pembangunan Gedung Museum Bali ini mendapat bantuan dari raja – raja dari seluruh kerajaan yang ada di Bali di antara nya Raja Karang Asem, Raja Buleleng, Raja Tabanan, Raja Bangli, Raja Badung dan Raja Negara. Setelah melalui berbagai hambatan akhirnya Museum Bali secara resmi di buka pada tanggal 8 Desember 1932

 

Bangunan Museum Bali

Konsep pembangunan Museum Bali adalah perpaduan antara pura dan puri. Dimana pura dilambangkan dengan atap bangunan yang beratap ijuk, kemudian adanya bale kulkul. Sedangkan puri dilambangkan dengan adanya bale bengong serta taman beji.

 

Selain itu penataan pameran Museum Bali berkonsep museum adalah jendela Bali. Dengan konsep ini, diharapkan pengunjung sebelum melihat Bali terlebih dahulu melihat museum. Sehingga dengan melihat museum, pengunjung sudah mempunyai gambaran apa yang ada di Bali.

 

Serta Museum Bali ini menganut konsep tri mandala, dimana terdiri dari tiga bagian ruang yaitu Jaba Sisi, Jaba Tengan dan Jaba Jeroan. Dimana masing-masing ruang di pisahkan oleh kori, angkul – angkul, candi bentar, sekat tembok penyengker.

 

Fasilitas Museum Bali

Museum Bali mempunyai 4 gedung pameran tetap, nama nama gedung tersebut disesuaikan dari raja yang membantu pembangunannya. Tema pameran yang ada di ke empat gedung tersebut disesuaikan dengan sejarah fungsi gedung.

 

Gedung Timur

Gedung timur terletak paling selatan dan merupakan bangunan baru pada masa repelita pertama. Disebut gedung timur karena terletak di area timur museum. Gedung ini terdiri dari dua lantai. Tema pameran di gedung ini menceritakan puncak – puncak budaya Bali sejak masa prasejarah hingga sekarang.

 

Di awali di lantai bawah, yaitu masa prasejarah dengan puncak budayanya berupa sarkofagus atau peti mati dari batu. Selain itu juga dipamerkan beberapa stupika, stupika adalah stupa kecil yang terbuat dari tanah liat. Yang di dalamnya terdapat materi bertulisakan mantra-mantra agama Budha yang berfungsi sebagai pemujaan. Stupika ini diperkiraan berasal dari abad ke 8 masehi, karena temuan ini sama dengan temuan di Candi Kalasan Jogjakarta yang berangka tahun 778 masehi atau abad ke 8. Oleh karena itu abad ke 8 di anggap sebagai awal adanya tulisan di Bali. Sehinggan masa sejarah Bali dianggap pada abad ke 8.

 

Lantai atas memamerkan upacara Panca Yadnya, yang merupakan ciri khas agama Hindu Bali. Selain itu juga dipamerkan alat pertanian yang mewakili subak yang merupakan salah satu puncak budaya Bali yang sampai sekarang masih berlangsung dan sudah di akui sebagai warisan budaya dunia.

 

Gedung Buleleng

Gedung Buleleng ini berada di sebelah selatan Gedung Karangasem dan mewakili arsitektur Bali Utara dengan ciri khas Patung Singa Ambara Raja yang berada di atas saka tunggah di tengah – tengah bangunan.

 

Tema pameran di gedung ini adalah uang kepeng atau pis bolong, karena Buleleng merupakan daerah yang pertama kali berhubungan dengan orang luar termasuk orang Cina dan merupakan daerah perekonomian pertama di Bali. Perekonomian identik dengan mata uang, di gedung ini di pamerkan bermacam – macam uang kepeng baik dari Majapahit, Banten, Palembang dan Cina sejak abad ke 8 sampai 9 masehi. Uang kepeng ini ditata secara kronologis berdasarkan fungsinya, yang awalnya sebagai alat tukar. Dalam perkembangannya dipakai sebagai alat upacara, permainan tradisional sampai ke hal – hal magis.

 

Gedung Karang Asem

Gedung Karang Asem berada di sebelah selatan Gedung Tabanan. Disebut Gedung Karang Asem karena merupakan bantuan dari Raja Karang Asem dan mewakili arsitektur Bali bagian timur. Arsitektur gedung seperti tempat raja pada waktu menerima perdana menteri atau tamu – tamu penting lainnya yang disebut Bale Penangkilan atau Bale Panjang karena bale ini bentuknya memanjang.

 

Tema pameran di gedung ini adalah Cili, karena Cili adalah lambang kesuburan dan kesejahteraan. Hal ini di identikan dengan peran raja yang memberikan kesejahteraan kepada rakyatnya. Secara kronologi pameran ini menceritakan fungsi, makna dan perkembangan Cili simbol – simbol kesuburan sejak jaman prasejarah, masa Hindu Budha Bali hingga sekarang sebagai perlengkapan upacara, seni bangunan dan berfungsi pula sebagai seni rupa.

 

Gedung Tabanan

Gedung paling utara adalah Gedung Tabanan. Disebut Gedung Tabanan, karena merupakan bantuan dari Raja Tabanan, dan mewakili arsitektur Bali barat dan selatan. Fungsi bangunan ini sebagai tempat menyimpan pusaka – pusaka raja, oleh karena itu tema pameran adalah kris, karena kris identik dengan pusaka raja. Koleksi yang dipamerkan adalah kris koleksi museum Bali yang diperoleh dari masyarakat sejak dari masa Belanda sampai sekarang. Kris ini di tata secara kronologi berdasarkan fungsi kris yang ada di Bali serta koleksi – koleksi penunjangnya, misalnya patung tempat kris, patung yang memakai kris, seni pertunjukan yang memakai kris.

 

Perawatan Benda – Benda Koleksi di Museum Bali

Untuk perawatan koleksi secara umum ada dua cara, yaitu secara preventif dan kuratif. Secara preventif yaitu mencegah koleksi dari penyakit dan secara kuratif adalah mengobati koleksi yang terkena penyakit.

 

Secara preventif dilakukan secara manual yaitu dengan cara membersihkan debu, memberikan kapur barus untuk mencegah dari segala penyakit. Untuk perawatan secara kuratif yaitu mengobati dengan cara tradisional maupun dengan cara kimiawi. Misalnya perawatan dengan cara tradisional, yaitu membersihkan lontar dengan memakai minyak sereh. Untuk secara kimiawi yaitu memakai obat – obatan. Namun saat sekarang di anjurkan untuk memakai cara tradisional karena lebih awet dan aman.

 

Sumber Daya Pegawai Museum

Untuk meningkatkan kualitas sumber daya pegawai khususnya bidang permuseuman, Museum Bali bekerja sama dengan Direktorat Pelesetarian Cagar Budaya dan Permuseuman Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan untuk melakukan pelatihan bimbingan teknis maupun kursus – kursus yang berhubungan dengan permuseuman, seperti pelatihan pengelolaan manajemen museum, pelatihan konservasi maupun pemeliharaan koleksi. Kemudian juga ada Bimtek tentang pemandu museum. Disamping itu juga ada kerja sama dengan berbagai museum yang ada di seluruh Indonesia.

 

Sebagai sebuah objek wisata sejarah, Museum Bali terus berupaya melakukan pembenahan, baik dari tampilan fisik maupun dari sisi pelayanan. Diharapkan nantinya Museum Bali bisa menjadi salah satu ikon budaya di kota Denpasar yang mampu memancing minat pengunjung.

About the Author

By dutatour / Administrator

Follow dutatour
on Jul 14, 2018

Paket Wisata Bali 3 Hari 2 Malam

Artikel Wisata Bali